Bali dan Australia

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hai semuanyaaa,,, udah cukup lama blog ini tersisihkan rutinitas saya yang lain, yaa mau gimana lagi, udah berusaha sekuat tenaga mengatur waktu tapi tetap saja, waktu yang 24 jam itu terasa kurang, sepertinya saya harus banyak berdoa agar Allaah memberikan keberkahan dalam waktu saya sehingga bisa melaksanakan semua aktivitas dengan baik.

Aktivitas belajar berdagang yang hampir memonopoli jatah waktu saya per harinya ternyata cukup memberikan pelajaran. Banyak hal yang saya pahami kemudian saya catat dalam hati dan pikiran. Karena toko saya berada di Bali, tepatnya di daerah legian yang mana banyak tourist dari mancanegara yang berlalu lalang dan menghampiri toko saya otomatis membuat saya semakin akrab dengan tourist dari luar negeri. Most of them adalah pelancong dari Australia. Saya pikir Bali memang memiliki nilai lebih sebagai daya tarik yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Indonesia. Selain keelokan alam yang menjadi modal utama, masyarakat Bali yang masih melestarikan kebudayaannya apalagi ditambah sifat penduduk lokal yang memang ramah sepertinya mampu menarik perhatian kaum wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung. Terlebih bagi orang Australia yang menganggap Indonesia khususnya Bali sebagai tetangga atau rumah kedua bagi mereka. Setiap tahunnya tourist dari Australia selalu mendominasi jumlah wisatawan yang datang ke Bali. Khusus untuk negara yang satu ini, masih ingat kan kasus yang sempat merenggangkan hubungan pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia terkait hukuman mati terhadap warga Australia yang tertangkap membawa obat-obatan terlarang?, juga tentang bantuan yang pernah diberikan kepada Indonesia ketika terjadi tsunami di Aceh beberapa waktu silam yang diungkit kembali hingga berujung pada digalangnya pegumpulan uang receh yang kemudian diserahkan kepada duta besar Australia sebagai simbol dibayarkannya kembali bantuan tersebut. Untuk beberapa saat, kami sebagai pedagang di Bali merasakan imbasnya dari penurunan wisatawan dari negeri kangguru itu, dan merasa khawatir kalau-kalau masalah ini semakin merusak hubungan diantara kedua negara. Syukurnya hal itu tidak berlangsung lama, karena pada umumnya mereka tidak terlalu terpengaruh pada isu yang sedang terjadi dan tetap menganggap Bali sebagai tempat yang layak dipilih untuk menghabiskan masa liburan terlebih lagi pada saat-saat musim dingin di negara mereka. Sering saya iseng bertanya kepada mereka “Sudah berapa kali anda ke Bali?” atau “Ini kedatangan anda yang keberapa kalinya ke Bali?” dan saya belum pernah mendapatkan jawaban “It’s my first time!” bahkan lebih jauh dari itu, tidak sedikit yang memiliki bisnis di Bali, lihat saja toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan seminyak-oberoi sebagai kawasan elit memang kebanyakan dimiliki oleh warga asing. Kalau bukan sebagai pemilik, maka merk-merk yang ada cukup membuktikan bahwa kebanyakan brand berasal dari luar negeri alias bukan hasil produk lokal(ini sejauh pengamatan saya). Yang tidak perlu diragukan adalah dagangan kami yaitu kerajinan dari kerang laut, asli buatan lokal(muka bangga J). Atau kerajinan-kerajinan khas bali yang dijual penduduk lokal berupa lukisan, ukiran, atau bermacam-macam souvenir.

Balik lagi tentang betapa akrabnya kehidupan kami di Bali dengan orang Australia. Kedekatan hubungan tidak hanya ditunjukkan dengan banyaknya orang Australia yang datang dan tinggal di Bali tapi tidak sedikit juga kaum-kaum terpelajar Bali yang meneruskan pendidikan mereka di negeri yang terkenal dengan Opera House nya itu. Seperti teman kursus bahasa Inggris saya di lembaga yang ternyata adalah bentukan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia, ia menceritakan bahwa kakak perempuannya saat ini tengah berada di Australia. Di Bali sendiri telah banyak sekolah-sekolah untuk orang asing atau mereka yang memiliki orang tua campuran. Saat SMP saya masih ingat ketika kami bertanding basket dengan sekolah Sunrise School yakni salah satu sekolah internasional yang pada saat itu mengadakan pertandingan persahabatan dengan sekolah kami. Seolah kami di Bali memang bertetangga dengan warga Australia, bertetangga dalam arti yang sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s