Hidup itu adalah Belajar

Bismillahirrohmanirrohiim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sahabat pembaca, Saya semakin mengerti bahwa kita tidak sepenuhnya berkuasa terhadap hidup kita. Seperti saya misalnya, selalu terinspirasi oleh banyak orang yang kisah hidupnya saya baca dari buku-buku atau dari majalah. Segala informasi yang saya dapatkan membuat rencana saya atau cita-cita saya sejak kecil hingga beberapa waktu lamanya selalu berubah-ubah. Dulu saya pernah memiliki cita-cita menjadi seorang dokter spesialis kandungan karena gak ingin ditangani oleh dokter laki-laki disaat melahirkan. Saya juga pernah memiliki beberapa keinginan lain, seperti menjadi violinis atau seorang pemain biola, menjadi seorang guru, dan masih banyak keinginan-keinginan lain yang pernah saya miliki. Ketika Membaca kisah sukses para pengusaha dalam bisnis atau perdagangannya membuat saya juga memiliki keinginan untuk menjadi pedagang yang sukses. Bahkan untuk keinginan yang satu ini membuat saya tidak tertarik atau mungkin tidak sempat berfikir untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Apalagi ditambah dengan banyak kisah hidup mereka yang menjalani usahanya dari bawah tanpa gelar sarjana, toh mereka bisa sukses, pikir saya waktu itu. Selain itu sebagai seorang wanita, saya tidak pernah berpikir untuk bekerja di perusahaan dan mengharap gaji yang diberikan atasan, hal itu tidak pernah sekalipun menjadi keinginan saya. Lagipula, saya telah terbiasa hidup dan dibesarkan dalam atmosfer pedagang, yang mana bagi seorang pedagang, dialah yang menggaji orang lain bukan orang lain yang menggajinya. Jadi untuk apa saya harus bersusah payah menyulitkan diri sendiri untuk mengejar beberapa huruf dibelakang nama sebagai titel bila pada akhirnya tujuannya adalah bekerja dan digaji orang lain? Sedangkan saya tidak menginginkannya? Bukankah lebih sederhana jika saya mengikuti jejak orang tua sebagai pedagang? Pemikiran yang terbilang sempit itu membuat saya tak sedikitpun merasa bersalah. Karena saya pikir tak ada untungnya melanjutkan pendidikan kalo pada akhirnya ilmu itu tak akan saya manfaatkan. Setiap hari saya hanya disibukkan membantu ayah di toko-membantu berdagang, walaupun nilai saya sejak SMA cukup baik dan ibu guru yang pernah menjadi wali kelas kami pernah menanyakan kabar tentang saya kepada sodara saya yang juga sekolah di SMA yang sama, guru saya itu menanyakan apa aktivitas saya saat ini, dimana saya kuliah? sodara saya menjawab bahwa saya sedang membantu ayah berjualan. Dan seketika itu ibu guru menyayangkan, kenapa saya tidak kuliah padahal banyak anak-anak lain yang memiliki keinginan untuk kuliah tapi terkendala masalah biaya, sedangkan saya, soal dana sebenarnya bukan menjadi masalah. Pada saat itu saya tetap kekeh pada pemikiran saya sendiri, bahwa saya lebih memilih untuk belajar berdagang.

Pada saat menjalankan aktivitas rutin itu banyak pengalaman yang saya dapatkan, hal yang masih teringat adalah ketika untuk pertama kalinya dompet saya berisi uang satu juta rupiah. Walaupun uang itu bukan uang saya melainkan uang orang tua, hehe. Tapi ada rasa bangga dihati bahwa itu adalah hasil penjualan saya sendiri hari itu. Karena tidak mudah melayani pembeli apalagi dari luar negeri karena kebetulah toko ayah saya ini di daerah wisata tepatnya di seminyak, Bali. Senangnya bukan main, ngerasa sudah seperti business woman, hehe. Dengan memilih tidak melanjutkan kuliah berarti saya betul-betul ingin fokus dalam hal dagang-berdagang, singkat cerita, akhirnya saya punya toko sendiri, horeee! Itu artinya saya yang akan mengelola uang saya sendiri, dengan kata lain saya yang jadi boss, hehe, walaupun tidah sepenuhnya profesional karena orang tua saya tetap memantau dan memberi bantuan. Lagipula sebagian modal usaha adalah uang pinjaman dari bank dengan memakai jaminan deposito kakek saya. Banyak dari teman-teman yang sering melontarkan pertanyaan kepada saya soal kesibukan saya dan selalu saja pertanyaan mereka adalah “kamu kuliah dimana Ri?” tidak sedikit juga dari mereka yang lebih dulu memilih menikah maka mereka akan menanyakan, “Udah nikah belum Ri?” tapi pikiran saya lebih tercurahkan kepada bagaimana mengumpulkan uang lebih banyak. Dengan begitu hutang di bank cepat dapat saya lunasi. Oh ya, sebelumnya saya sempat mendaftar di universitas swasta pada jurusan kedokteran gigi. Namun setelah mengikuti tes tulis, para peserta dibagikan formulir sumbangan yang menjelaskan seberapa besar kemampuan dan kesanggupan kami memberi sumbangan pada kampus dan jumlah minimalnya gak nanggung-nanggung, 80 juta!!! Dengan kata lain, saya harus menyiapkan dana lebih besar dari jumlah minimal itu, sedangkan uang di rekening saya yang saya siapkan untuk membayar hutang di bank baru terkumpul 60 juta, dan tidak mungkin saya menggunakannya untuk sumbangan di kampus. Terpaksa saya harus mengubur keinginan itu, dengan berprasangka baik pada Allah. Akhirnya, setelah 2 tahun berlelah-lelah dengan peluh dan air mata disetiap doa, hutang sayapun dapat dilunasi, setahun lebih cepat dari waktu jatuh tempo. Syukurnya tidak terbayangkan, dari situ saya sadar sepertinya saya tipe orang yang lebih baik tidak berhutang karena kebawa pikiran terus. Dan ketika beban itu hilang, sungguh saya sangat mensyukurinya. Terimakasih Yaa Rabb.

Sebenarnya, hal yang membuat saya berkeinginan untuk mendaftar di Universitas pada waktu itu adalah ketika saya mengenal teman-teman mahasiswa dalam komunitas belajar. Mengenal mereka membuat saya memiliki pandangan baru soal pendidikan. Disamping kita harus selalu yakin bahwa setiap keadaan memang seharusnya kita syukuri. Kenapa begitu? karena betullah bila dikatakan disetiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Begitu juga dengan saya, saya harus selalu mensyukuri keadaan dan selalu berprasangka baik pada kehendak Allaah. Juga ketika saya semakin banyak mengenal orang lain membuat saya berpikir dan sampai pada kesimpulan bahwa pendidikan itu penting bahkan sangat penting. Tidak peduli apakah nantinya ilmu yang kita pelajari akan kita gunakan pada saat bekerja atau tidak. Yang pasti ilmu akan selalu bermanfaat, minimal untuk diri kita sendiri. Kita telah sangat hapal perbedaan antara harta dan ilmu, harta harus kita jaga tetapi berbeda dengan ilmu, ilmu yang akan menjaga kita. Apalagi telah diakui bahwa ilmu membuat seseorang memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak berilmu dan ini memang benar-benar terbukti dan kita tidak bisa menyangkal hal itu. (walaupun ilmu disini tidak terbatas pada ilmu yang kita dapatkan dalam pendidikan formal).

Alhamdulillaah, saat ini saya disibukkan dengan belajar dalam perkuliahan di salah satu universitas jarak jauh, namanya Universitas Terbuka. Dikatakan jarak jauh karena frekuensi transfer ilmu dari dosen kepada mahasiswa dengan tatap muka secara langsung bisa dibilang nyaris gak ada (kecuali mengikuti kelas khusus) dan diwakili dengan adanya modul dan tutorial online. Sangat menyenangkan karena bisa lebih fleksibel mengatur waktunya, berbeda dengan kampus saya sebelumnya yang aktivitas perkuliahannya pada malam hari dan terasa kurang efektif. Selain menyibukkan diri belajar secara mandiri, saya juga mengikuti kelas bahasa asing di IALF, sebuah lembaga hasil kerjasama pemerintah Indonesia dan Australia dalam bidang pengembangan bahasa. Saya begitu antusias mengikuti kelas ini karena menguasai bahasa lain khususnya bahasa inggris akan berguna sekali untuk menambah keluesan dalam berkomunikasi dengan pembeli di toko, syukur-syukur kalo bisa berkunjung ke luar negeri. Aamiin yaa allah!

Di sore hari sepulang dari toko, saya akan langsung menghadiri komunitas Al-Qur’an. Disana akan ditemui teman-teman yang sedang menghapal Al-Quran. Dari mulai anak kecil hingga ibu-ibu. Ada yang sedang belajar mengaji dan juga menghafal Al-Quran. Senang sekali berada dalam komunitas seperti ini. Guru kami adalah seorang ustadzah yang hafidzah, semoga Allaah menghendaki saya juga bisa sepertinya, yang penting harus selalu istiqomah selalu mengaitkan hati dan kehidupan kita dengan Al-Qur’an. Dengan begitu, harapannya hidup kita selalu dalam keberkahan. Aamiin.intinya, Mari kita lebih bersemangat mencari ilmu.

GO GO GO SEMANGAT! Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s